Senin, 29 November 2010

TOLONG AKU!!! GOD IS NOW HERE ATAU GOD IS NO WHERE?? (Yenita Tri Risqi H. )


Dengan langkah gontai, kuayunkan pasti setiap jengkang langkah kaki ini menyusuri setiap lorong kehidupanku yang sunyi . Entah apa yang ada dibenakku saat ini. Seolah ada sebongkah batu besar yang tengah mengganjal kepalaku. Dan tugasku sekarang adalah aku harus bisa memecah bongkahan batu besar itu menjadi kepingan-kepingan kecil dan menemukan sosok terang sang mutiara yang setidaknya mampu mendamaikan kepiluanku kini. Sulit memang. Namun itulah yang tengah aku alami kali ini. Problema kehidupan.
Setiap hari, setiap pulang sekolah satu hal yang sering kutemui di rumah. Melihat bapakku tengah ngerokin perut kodok. Selain itu tiada lagi yang dilakukannya. Adapun mungkin itu merupakan suatu hal yang setali tiga uang. Sama saja. Tidak berguna dan sia-sia. Kadang bapak hanya mengganti obyek binatang yang dianiayanya dari kodok menjadi cicak. Makhluk nggak jelas berwarna ijo yang sering loncat-loncat kayak pocongan ini merupakan makhluk yang sering dijadikan bapak sebagai obyek kemusyrikan. Sedangkan sang cicak, makhluk mungil yang kata Charles Darwin merupakan makhluk yang gagal berevolusi jadi buaya ini adalah obyek pelampiasan bapak jika gagal mendapatkan wangsit nomor dari perut Sang Princess Frog. Jangan tanyakan kenapa bapakku melakukan kegilaan ini. Satu-satunya alasan adalah apalagi kalau bukan untuk mencari keberuntungan dengan harapan bisa memperoleh bayangan angka yang muncul dari balik abdomen hewan-hewan tersebut. Tepatnya “ANGKA TOGEL”.
Memang konyol kelakuan bapakku yang satu ini. Tak habis pikir kami sekeluarga dibuatnya. Kami tak menyangka bapakku yang dulu bisa dikatakan alim kini telah menjadi sesosok ayah yang matrealistis dan musyrik. Entah apa yang telah merubahnya. Kadang aku berpikir, mungkinkah ini semua terjadi karena kejadian beberapa tahun silam? Jujur kalau mengingat fenomena itu aku merasa sedikit menyesal. Kisah ini aku alami saat aku masih duduk di bangku kelas enam SD. Pada waktu itu dikampungku memang sedang trend-trend nya yang namanya “TOGEL”. Suatu ketika, kami sekeluarga sedang kongkow-kongkow sambil nonton TV di ruang keluarga. Seperti biasa bapak dan ibu jika sedang berkumpul seringkali memperdebatkan masalah perekonomian keluarga.
“Pak, sampeyan itu hla mbok ya coba cari kerjaan gitu lho.
Lihat saja pak, keuangan keluarga kita ini untuk akhir tahun ini udah mimpes.Sedangkan kebutuhan perekonomian keluarga ini kian lama semakin menjerat leher. Bayangin saja Pak, SPP Nawa udah nunggak selama 3 bulan,Pak! Apalagi tahun depan si Nawa mau masuk SMP.Pasti kita butuh biaya sangat banyak, Pak!” keluh ibuku dengan raut pilu.
“Owalah Bu-Bu, lha wong Bapak ini kan cuma lulusan SMP itupun ijazah Bapak uda hilang nggak tahu entah kemana. Pengin cari kerja apaan lagi to Bu! Jadi Bos? Atau pejabat? Mana mungkin?!! Apalagi buruh pabrik? Mereka nggak bakal nerima Bapak yang uda tua gini Bu!”
Lagi-lagi alasan nggak mutu itu yang selalu terlontar dari mulut manis Bapak. Dan itu pasti hanya dalih karena dia malas bekerja, pikirku dalam hati.
“Kerjaan kan nggak harus yang enak Pak!Nguli kek kan juga nggak apa-apa, Pak!! Yang penting ada yang buat bantu ngebiayai pendidikan anak kita. Supaya kelak dia itu bisa jadi orang sukses, nggak kayak kita yang seumur hidup cuma mlarat! Gini-gini Ibu itu sekolah cuma sampai SD, Pak! Itupun nggak sampai lulus, tapi Ibu tetep usaha gimana caranya tetap bisa mempertahankan keluarga ini,Pak. Meskipun ibu cuma sebagai tukang cuci, tapi yang penting itu cukup untuk kebutuhan makan kita sehari-hari. Kenapa Bapak nggak usaha kerja mbecak kayak dulu lagi???!! Setidaknya kalau Bapak mau ikhtiar, mungkin itu bisa sedikit mendongkrak pemenuhan kebutuhan untuk keluarga ini.”
“ Lha kan ibu tahu sendiri, Bapak ini punya penyakit asma yang rawan kambuh setiap saat!! Kalau itu asma kumat, yang repot pasti kan Ibu juga. Udah ah!! Males ndengerin Ibu ngoceh. Mendingan Bapak sholat nyenyuwun sama Gusti Allah supaya diberi rejeki!”bantah bapakku.
Bapakku pada waktu itu memang masih alim-alimnya tapi sifatnya yang pemalas dan selalu melebay-lebaykan penyakit asmanya, terkadang membuatku muak, tak terkecuali bagi Ibu.”Huh!!! suami macam apa itu, bisanya cuma nggandul sama istri”, gerutuku dalam hati. Ya cuma dalam hati sebab aku sadar betul aku ini memang masih kecil dan belum layak ikut campur masalah orang dewasa, sekalipun mereka orangtuaku sendiri.
“Gusti Allah nggak bakal nurunin hujan duit, Pak! Kalau hambanya nggak pernah mau ikhtiar!!” balas ibuku jengkel sembari meninggalkanku dan bapak menuju dapur.
Aku tahu ibu muak dengan semua sangkalan bapak. Begitu pun aku.
Selang beberapa lama kemudian, bapak mengambil secarik kertas kumal dan pulpen dari atas meja. Terlihat olehku, raut bapak yang sedang berpikir sambil sesekali menghitung-hitung sesuatu yang nggak jelas. Tiba-tiba bapak menegurku.
“Wa, berapa angka favoritmu, nduk??”
“Buat apa, Pak? Lagian kenapa Bapak tiba-tiba tanya angka kesukaanku? “ tanyaku penuh selidik.
“Sssstttsstttt, udah kamu anak kecil diam aja!Kamu tinggal ngomong aja? Siapa tahu beruntung! Toh nanti kamu juga yang seneng kalo nomornya tembus! Ini kan juga ikhtiar namanya!” paksa bapakku. Aku sama sekali belum paham maksud bapak.
Sebenarnya aku malas menanggapi pertanyaan bapak yang amat sangat tidak penting itu, tapi apa daya aku belum berani melawan bapak. Seolah budaya ngomong “ hanya yang tua yang boleh bicara” seperti iklan di TV-TV itu sudah mencemari sebagian isi otak bapakku. Apa boleh buat, aku belum mampu tuk berkutat, yang bisa kulakukan saat ini hanyalah sami’na wa atho’na, ‘ kami dengar dan kami patuh’. Akhirnya akupun asal nyeplosin tiga angka sesuka hatiku. Nggak peduli angka itu digunakan untuk apa.
“103, Pak”, jawabku singkat padat dan tak berisi
“Satu angka lagi, nduk!” pinta bapak.
“ Nggak tau ah pak!”balasku ketus seraya pergi menuju kamar.
Bapak hanya gedek-gedek melihat tingkahku dan aku tak memperdulikannya. Mungkin aku telah di judge nya sebagai anak durhaka. Bapak kembali menekuni angka-angka yang kusebutkan tadi. Selang beberapa lama dari balik pintu kamar, kudengar bapak menyebutkan kalimat final.
” 1503, yes!Bismillahirrahmanirrahiim.”
Keesokan harinya, prahara itu benar-benar datang. “2903” itu adalah nomor togel yang tembus malam itu dan ternyata dua angka terakhir dari nomor togel yang aku ceploskan, ‘03’ jadi nomor keberuntungan bapakku malam itu juga. Aku sama sekali nggak tahu kalau ternyata bapak telah menyalahgunakan angka favoritku dengan menggunakannya untuk memasang togel. Yang jelas aku merasa menyesal melakukan itu. Aku merasa turut berdosa.
Dari tembusan togel tersebut akhirnya bapak mendapat reward sebesar dua juta rupiah. Pada waktu itu nominal uang segitu sudah amat besar bagi keluarga mlarat seperti kami. Sebenarnya ibu tak mau menerima uang haram itu. Namun karena kepepet dan dipaksa bapak, akhirnya ibu dengan berat hati mau menerima uang judi yang berkedok togel itu.
Kadang aku berpikir tentang hukum cinta dan benci Allah kepada hambanya. Pada hakekatnya sikap orang yang mencintai sesuatu itu pasti akan selalu melindungi, menuruti permintaan,dan membela, sedangkan sikap seseorang yang membenci sesuatu itu akan cenderung menghancurkan dan menolak segala permintaannya. Jika Allah mencintai orang beriman, harusnya Allah itu menuruti segala permintaan hambanya dan melindunginya. Dan jika Allah membenci orang-orang kafir harusnya Allah menolak permintaannya dan menghancurkannya. Tapi pada realitasnya, kenapa Allah justru membiarkan kemusyrikan hambanya dan malah membiarkan bapakku yang kafir memperoleh rejeki dengan cara yang haram? Pertanyaaan-pertanyaan itu sering kali bergelayut di ubun-ubun kepalaku sampai-sampai aku sering meragukan eksistensi Tuhan.
Setelah hari keberuntungan itu berlalu, kian lama, bapakku semakin tuman alias kecanduan untuk terus memasang togel. Padahal ibu berulang kali mengingatkan bapak agar tidak memasang togel lagi, haram katanya. Namun wejangan ibu yang pernah diutarakan pada bapak sama sekali tak diindahkannya. Semuanya dianggap angin lalu.
“Duren-duren, roti-roti. Biyen-biyen, saiki-saiki” itulah prinsip hidup bapakku sekarang. Bahwa segala apa yang berlalu itu biarlah berlalu. Yang penting bapak enjoy dengan hidupnya yang sekarang yang penuh dengan kemusyrikan.
Satu hal yang sering membuat hatiku mangkel adalah bapak dan para tetangga selalu bertanya kepadaku tentang nomor togel yang kira-kira akan tembus pada malam-malam tersebut.
Semua orang di kampungku memang sudah gila oleh budaya mata duitan ini. Yang bisa kulakukan hanya diam seribu bahasa setiap ditanya oleh mereka. Meskipun aku harus menanggung resiko selalu dipisuhi oleh bapak. Tapi aku tetap teguh dengan pendirianku. Aku nggak mau dijadikan lagi obyek kemusyrikan bapakku. Akhirnya bapak melampiaskan kejengkelannya dengan menggantikanku dengan kodok dan cicak. Konon katanya kodok dan cicak adalah makhluk pembawa keberuntungan. Setiap malam yang dilakukan bapak hanya ngerokin perut kodok atau cicak. Namun aku bersyukur, aku akhirnya bisa terbebas tanpa mendengar lagi ocehan bapak. Beruntung bapakku tidak sampai hati mengerok perutku berharap memperoleh angka keberuntungan dariku lagi.
Tiga tahun telah berlalu, namun sindrom togel nya bapakku tak jua sirna. Sampai suatu ketika ibu harus bekerja ekstra untuk mendapatkan uang lebih agar bisa menyekolahkanku ke SMA sehingga akhirnya ibu berinisiatif untuk jualan jajanan keliling kampung tiap sore hari. Begitu besar kegigihan ibu. Dialah semangat dan motivasiku untuk terus bisa berprestasi. Aku salut dan bangga bisa mempunyai sosok ibu yang rela berkorban demi memperjuangkan kemerdekaan pendidikan anaknya. Setiap hari kedua tangan keriput ibu selalu menggotong keranjang berisi makanan. Bahkan masih ditambah lagi beban bakul berisi nasi yang harus dipikulnya dibalik punggungnya yang telah renta. Sementara itu aku membantu ibu membawakan sebuah keranjang berisi minuman yang telah dibungkus. Meskipun hujan turun deras, ibuku tetap bersikeras untuk tetap jualan. Kerja sebagai pedagang keliling tak semudah yang aku duga, berbagai penolakan seringkali terjadi. Relitas memang tak selalu sepadan dengan perjuangan.
Suatu ketika ,sepulangnya aku dan ibu dari berdagang, kami mendapati ada seseorang yang telah bertamu ke rumahku. Sepertinya aku tidak asing dengan wajah orang itu, namun tak begitu jelas karena aku hanya melihatnya dari kejauhan, sedangkan orang tersebut telah masuk ke dalam mobilnya dan pergi seketika itu juga. Karena penasaran akhirnya aku dan ibu bertanya kepada bapak, siapa gerangan yang tengah berkunjung ke rumah ini. Bapak berkata bahwa orang itu adalah pak Jemy, orang yang tidak lain dan tidak bukan adalah seorang kristiani yang sering gencar melakukan misionaris kepada rakyat miskin. Kata bapak, pak Jemy mau memberikan bapak pekerjaan dan menjamin sekolahku asalkan bapak mau masuk agama Kristen. Spontan ibu langsung menolak tawaran itu mentah-mentah dan melarang bapak untuk masuk Kristen. Sebab ibu sendiri itu adalah salah satu tokoh di kampung kami yang dipercaya oleh para tetanga untuk mengajar mengaji. Jika hal itu terjadi pasti itu akan menjadi imej buruk bagi keluarga. Bapak berusaha meyakinkan ibu tapi ibu tetap teguh dengan pendiriannya. Jujur akupun sudah pastinya menolak tawaran itu, meskipun iming-iming itu begitu menggiurkan. Namun aku sendiri saja terkadang masih meragukan tentang eksistensi Tuhan yang Esa apalagi ini harus dihadapkan dengan eksistensi Tuhan ada tiga, trinitas.
Dobelisasi kerja yang dilakukan ibu ternyata belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang kian lama kian membuncah. Akhirnya aku dan ibu mencoba untuk melakukan tripelisasi kerja. Setiap pagi-pagi buta sekitar jam 3 hingga jam setengah 6 pagi, aku dan ibu selalu berbondong-bondong pergi ke kuburan. Ibarat njajah deso milangkori, berbagai kuburan sudah pernah kami jelajahi, Mulai dari kuburan Krapyak, kuburan Sunan Kuning, kuburan Berguto, dan kuburan Subali, itu semua sudah pernah kami tekuni.Jangan salah mempersepsikan apa yang kami kerjakan di kuburan tersebut dengan mengasumsikan bahwa kami akan memutilasi mayat seperti yang dilakukan Sumanto atau menganggap kami akan mengambil tali pocong dan menggunakannya sebagai pesugihan atau bahkan membongkar peti mati orang-orang Cina untuk diambil perhiasannya. Itu tak mungkin kami lakukan sebab kami ke kuburan itu hanya bermodalkan tas kresek dan sepeda ontel. Yang kami lakukan di kuburan adalah memunguti kembang-kembang kamboja itu dan menjualnya. Setiap 1 kg bunga kamboja fresh dihargai tiga ribu rupiah, sedangkan 1 kg bunga kamboja kering dihargai senilai 15 ribu rupiah.
Aku tak tahu untuk apa nantinya bunga kamboja itu akan digunakan yang penting kami bisa menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Seringnya aku ikut ibu pergi ke kuburan menjadikanku bermental pemberani dalam artian tak takut dengan yang namanya dedemit dan kawan-kawannya, sebab selama disana aku dan ibu tak pernah menemui hal ghaib seperti itu. Adanya orang yang meninggal dunia dan di kubur di tempat yang kami singgahi setiap harinya justru menjadi kebahagiaan bagi kami sebab biasanya di sekitar pemakaman orang yang mati tersebut terdapat banyak berserakan gelas bekas air mineral yang akhirnya bisa kami punguti untuk dijual kembali, memang terkesan seperti bersenang-senang diatas penderitaan orang lain. Namun karena realitas hiduplah akhirnya mental pemulung kami terbentuk.
Pada hari Minggu yang cerah aku menghabiskan waktuku sampai siang hari di kuburan sendirian sebab ibu harus bekerja kembali ke rumah majikannya sekitar jam tujuh pagi. Saat itu kebetulan ada orang yang meninggal dunia dan aku akan memunguti gelas-gelas bekas air mineral itu setelah para peziarah sudah pergi meninggalkan tempat pemakaman. Sebab aku merasa canggung jika melakukan pekerjaan ini dalam keramaian. Setelah menunggu sekian lama, akhirnya mereka pergi. Hanya seorang saja yang masih tersisa disana. Seorang pria muda yang tengah duduk disamping nisan yang bertuliskan”Sudarman”. Nampaknya dia tengah merenungi kematian orang yang telah dikubur itu dengan sesekali meneteskan air mata. Entah apa yang ada dibenaknya saat itu. Sementara itu aku yang sedari tadi mengamati orang tersebut dari jarak 2 meter, gelisah sendiri karena hari mulai sore sedangkan orang itu tak kunjung pergi. Akhirnya kuberanikan diriku untuk meminta ijin padanya.
“Assalamu’alaikum, ehhm kak maaf sebelumnya. Begini, ehhmm bolehkah saya memunguti gelas-gelas bekas dan bunga kamboja disini??”tanyaku ragu.
“Walaikumsalam deg, silahkan saja. Asalkan jangan kau punguti pula bunga mawar melati yang ditaburkan dimakam kakakku ini.” Jawabnya sambil tersenyum
“Oowh, makasih ya kak. Eehhm, kalo boleh saya ngasih saran sebaiknya kakak jangan larut dalam kesedihan ini. Toh ini semua kan udah jadi sunatullahnya hidup. Orang yang hidup pasti akan mati”, sarankan dengan sedikit menggurui
“ Aku tidak sedang larut dengan kesedihan ini namun aku hanya mencoba menghayati tentang makna kematian, ternyata orang yang sudah mati itu pasti tidak bisa melakukan apa-apa lagi dan sudah tak bisa beramal dan bertobat. Aku merasa sedih karena aku merasa gagal menyelamatkan kakakku yang terkena arus kristenisasi akibat virus cinta. Padahal aku telah berulang kali berusaha mengingatkan dan mencoba menunjukkan kebenaran Islam kepada kakakku itu. Sampai akhirnya dia meninggal karena kecelakaan sebelum ia menerima kebenaran itu”, jawabnya putus asa.
“Jujur aku merasa salut dengan Anda kak, sebab aku sendiri saja yang seorang muslim merasa gagal mendakwahi diriku sendiri dengan meyakinkan bahwa Tuhan itu ada sehingga aku hanya bisa membiarkan bapakku dalam kekafiran dan kemusyrikannya. Itu semua karena aku terlanjur benci dengan perlakuan bapakku pada ibuku. Tapi berbeda dengan kegigihan anda yang berusaha untuk memperjuangkan agama Allah. Jujur, aku salut pada anda!!” kataku.
“ Kenapa kamu nggak percaya sama Allah , deg? Bukankah kamu sendiri juga muslim, kamu berjilbab, tapi kenapa kami justru fasik terhadap agama Allah?”tanyanya penasaran.
“Dulu memang aku berjilbab karena Allah dan merupakan kewajiban, tapi lama-kelamaan aku berpikir kenapa aku tak kunjung juga menemukan Tuhanku. Sebenarnya tulisan GODISNOWHERE itu artinya” GOD IS NOW HERE” atau “GOD IS NO WHERE”?? Tuhan itu ada atau tidak?? Jangan tanyakan padaku kenapa saat ini aku masih berjilbab meski aku belum bisa menemukan Tuhanku. Sebab aku berjilbab karena aku melindungi diriku dari orang-orang jail. Lagipula aku pernah membaca koran bahwa penelitian dokter menyatakan bahwa syahwat laki-laki itu besar sehingga jika melihat bagian tubuh wanita mereka akan cenderung mudah terangsang. Itulah alasanku berjilbab saat ini!” jawabku panjang lebar.
“Pendasaranmu berjilbab cukup logis deg, tapi satu hal yang tidak dapat diterima oleh akal sehat. Kamu tidak mempercayai adanya Allah. Padahal alam semesta ini terbentuk karena pasti ada yang menciptakan. Dan yang menciptakan alam semesta ini pasti di luar ciptaannya. Ibarat orang yang membuat sebuah bolpoint. Dan didalam sebuah bolpoint itu terdapat berbagai unsur bahan yang diperlukan dalam membuat bolpoint itu. Sedangkan si pembuat atau pencipta bolpoint itu pasti akan berada diluar bolpoint ciptaannya. Nggak mungkin kan si pembuat bolpint tadi berada didalam bolpint tersebut. Begitu juga dengan Tuhan yang nggak mungkin berada di dalam alam ciptaannya dan sudah pasti tidak bisa dilihat secara kasat mata.” Jelasnya.
Panjang lebar kami berbicara sampai akhirnya waktu memisahkan kami. Karena keasyikan berdebat akhirnya aku hanya mendapat sedikit hasil pulungan.Namun secara tidak langsung aku merasa mendapat pencerahan. Sesampainya dirumah aku mencoba merenungi perkataan kakak tadi, ternyata benar apa yang diucapkannya. Selama ini aku telah salah mempersepsikan tentang eksistensi Allah. Tuhan yang menciptakannku. Yang memberiku kehidupan. Ternyata selama 15 tahun aku tidak benar-benar berislam, tidak benar-benar mengenal Tuhanku. Selama ini pula aku aku terkesan pupuk bawang dalam menjalani ibadah kepada Allah.Astaghfirullah. kalau begini caranya mana mungkin aku bisa mendakwahi bapak kalo diriku sendiri saja belum mampu tuk ku dakwahi. Semenjak kejadian itu aku mulai sadar, aku harus merencanakan hidupku dengan lebih baik dan tentunya tetap konsisten di jalan Allah.
--TAMAT--

BIARKAN AKU JADI “THE BEST OF MOESLEM” (Yenita Tri Risqi H. )


Seorang anak perempuan SMP memasuki ruang kelas 9A. Suasana ruang kelas saat itu sangat gaduh, menggambarkan kalau tak satu makhluk pun yang absen di hari itu. Dengan langkah gontai, gadis itu hampir saja menabrak meja yang ada di hadapannya. Perawakannya pendek, kulitnya sawo matang dan rambut cekaknya yang tomboy terkesan sedikit berantakan. Tetapi masih nampak kesan cute pada penampilan gadis kecil itu.
” Kenapa sich kamu, Za? kok kayaknya lesu banget, nggak biasanya deh kamu kayak gini!” Fachrul yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Faiza sudah tidak sabar melampiaskan rasa penasarannya. Faiza hanya diam saja, seakan tak mendengar pertanyaan yang baru dilontarkan temannya itu. Dilemparkannya tas ransel miliknya itu pada kursi yang biasa ia tempati.
”Aku lagi males,Rul!”jawab Faiza singkat. Tiba-tiba Fachrul menyebelahi Faiza. Tetapi cowok alim itu tetap menjaga jarak dengannya. Faiza sedikit merasa canggung.
”Males kenapa? Apa kamu nggak punya duit? Atau kamu tadi dijailin lagi sama Fian and the genk?”tanya Fachrul penuh antusias.
Faiza tersenyum simpul. Lalu Fachrul melanjutkan pembicaraannya.
”Mendingan kamu pake jilbab aja deh, Za! Mungkin kamu akan lebih dihargai sama temen-temen cowok kita. Mungkin mereka ngejailin kamu karena gayamu yang tomboy. Jadi mereka nganggap kamu layaknya cowok bukan cewek. So kamu yang dikerjain sama mereka”, lanjut Fachrul.
” Pernah sih kepikiran kayak gitu. Tapi ntar aja kal udah SMA”, jawab Faiza
”Kenapa mesti nunggu SMA kenapa nggak sekarang? Beribadah itu jangan ditunda-tunda, Non !”timpal Fachrul sok menasehati.
”Nanggung tau! Aku nggak punya duit buat beli seragam panjang. Lagian aku juga udah nazar kok. Kalo lulus SMP nanti aku akan pake jilbab.”
”Okelah kalo begitu, pasti aku dukung!” sambung Fachrul dengan antusias.
”Ehhmm,thank’s ya! Btw, tumben cowok sealim kamu care kayak gini sama cewek? Apalagi itu sama aku?” tanya Faiza heran.
”E....nggak kok, aku cuma nggak tega aja liat kamu dijailin terus ma anak-anak. Mungkin kamu akan kelihatan lebih baik dan anggun kalo pake jilbab. Hheehee...!!’ jawab Fachrul sambil nyengir.
Faiza cuma tersenyum kecut. Entah itu pernyataan sindiran atau pujian. Yang jelas kali ini Faiza tiak bisa membedakannya dan tak akan menanggapinya lebih jauh. Hari ini dia sedang bad mood. Karena sekarang yang ada di otak Faiza adalah perasaan bingung. Bingung karena tadi malam baru saja orangtuanya mengatakan bahwa dirinya tidak bisa melanjutkan sekolah ke SMA. Hal ini dikarenakan becak yang digunakan ayahnya untuk mencari nafkah mesti dijual untuk melunasi hutang keluarganya. Sedangkan penghasilan ibunya sebagai buruh cuci belum tidak akan cukup untuk membiayai sekolahnya kelak.
Perasaan sedih, bingung, takut, kecewa berkecamuk jadi satu dalam ubun-ubun Faiza. Rasanya ia ingin sekali teriak dan ngelampiasin semua beban dalam dadanya. Apalagi sebulan lagi UAN. Faiza takut dia tidak konsentrasi dalam mengerjakan soal-soal UAN. Namun bagaimanapun juga, Faiza masih punya tekad yang kuat untuk bisa menjadi lulusan terbaik. Faiza tak ingin mengecewakan kedua orangtuanya. Faiza harus fokus.
Dua bulan kemudian. UAN SMP telah usai. Hari ini adalah pengumuman hasil UAN, penentuan lulus tidaknya siswa-siswi SMPN 105 Semarang. Hati Faiza rasanya tak karuan, ditambah lagi karena kepikunannya. Yang seharusnya pada momen penting ini seluruh siswa diwajibkan memakai seragam OSIS lengkap, tetapi Faiza malah memakai seragam pramuka sendiri. Sekarang dia sedang menjadi Resort Center dalam acara ini. Malu, batinnya.
Jantung Faiza berdegup makin kencang ketika kepala sekolah membacakan tiga orang nama siswa yang katanya tidak lulus dalam ujian. Saat nama kedua dibacakan, seolah kaki Faiza tak bisa digerakkan dan sudah tak kuat untuk menopang berat badannya. Kaku. Faiza shock. Dia tidak lulus. Akhirnya ketiga orang tadi diminta untuk maju ke atas panggung, termasuk Faiza. Lengkap sudah penderitaan Faiza.Malu karena salah kostum dan ditambah lagi dia mesti menelan kenyataan bahwa dia tiak lulus ujian. Apalagi dia satu-satunya siswi yang tidak lulus, sedangkan dua orang lainnya adalah siswa.
Orangtua dari siswa yang tidak lulus juga diminta untuk maju ke atas panggung untuk menerima motivation of mentality dari Kepsek. Yang pertama kali disalami pak Kepsek adalah ibu Faiza. Faiza hanya tertunduk malu.
”Selamat Bu..! putri anda menjadi lulusan terbaik kedua!”kata Pak Kepsek.
Sungguh ironi. Tipuan yang menyebalkan,pikir Faiza. Lalu Pak Kepsek menyerahkan piagam penghargaan bertuliskan” SELAMAT ANDA LULUS sebagai LULUSAN TERBAIK KE-2”. Faiza tak bisa mengungkapkan rasa syukurnya dengan kata-kata. Ternyata dia benar-benar lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. Kebanggaan tersendiri bagi Faiza. Faiza senang ibunya bisa maju ke atas panggung menerima penghargaan untuknya. Baru kali ini Faiza menyaksikan ibunya begitu bangga pada dirinya.
Namun Faiza bingung antara rasa senang atau sedih untuk mengekspresikan hal itu. Senang karena dia lulus dengan nilai memuaskan atau sedih karena meratapi dirinya yang tidak bisa melanjutkan sekolah ke SMA. Dia merasa telah tervonis bahwa ” Orang miskin di Larang Sekolah”. Dan kini dia hanya bisa pasrah pada nasib.
Sabtu, 28 Juni 2006. Hari pengambilan ijazah. Sengaja Faiza datang lebih awal dan langsung pulang. Itu semua dilakukannya karena ia ingin menghindar dari teman-temannya yang pasti akan menanyakan kemana ia akan melanjutkan sekolah. Saat perjalanan pulang, ketika melewat SD nya dulu, SDN Haluan Bangsa 05, dia berhenti sejenak lalu tersenyum. Dia teringat masa-masa kecilnya dulu dengan teman-temannya. Masa kecil yang menyenangkan dan tanpa beban. Berbaur dengan teman-teman yang nakal tapi baik. Betapa indahnya masa sekolah. Tapi sekarang Faiza mesti menelan harapannya itu mentah-mentah. Menghindar dari mimpi-mimpinya. Sekarang Faiza tidak akan merasakan masa-masa itu lagi. Asa yang terpupus.
Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahu Faiza.
”Faiza, apa kabar nak?” tanya orang itu. Suara itu tampak tak asing lagi baginya. Sontak Faiza pun menoleh
”Eh Pak Paul, ngagetin aja. Alhamdulillah baik pak. Lantas Bapak sendiri gimana? Masih sehat kan Pak?”
”Walah...kamu nggak lihat nih. Bapak fresh gini kok! Hehe... .
Eh ngomong-ngomong kamu mau nglanjutin sekolah kemana nak?”
Faiza hanya diam dan geleng-geleng kepala lalu tersenyum.
“ Maksud kamu, Nak?”tanya Pak Paulus bingung.
”Faiza nggak bisa nglanjutin sekolah, Pak! Bapak Iza udah nggak kerja!” tegasnya.
Lalu Faiza menceritakan semua keluh kesahnya itu pada Pak Pulus. Pak Paulus adalah satu dari 46 guru SD Faiza. Pak Paulus yang juga seorang pastur itu adalah guru terbaik bagi Faiza. Meskipun agamanya katholik tapi beliau adalah guru yang care pada muridnya. Pak Paulus selalu membantu Faiza mencarikan beasiswa untuk membayar SPP Faiza. Beliau pula guru yang selalu mentraktir murid-muridnya yang masuk rangking 5 besar dalam kelas saat penerimaan rapor. Dan Faiza selalu dapat jatah traktiran itu. Faiza memang tergolong siswa yang berprestasi. Saat kelulusan SD pun dia berhasil menggondol predikat sebagai lulusan terbaik pertama.
Hal itu membuat prihatin Pak Paulus. Beliau merasa kasihan pada Faiza, kenapa anak sepintar dan selincah Faiza mesti berhenti sekolah. Dan kenapa pula selalu faktor ekonomi yang melatarbelakanginya. Naluri Pak Paulus seakan berontak, hal ini tidak boleh terjadi.
” Kamu nggak usah khawatir, Nak! Gimana kalo kamu sekolah di SMA Ambalan Yesu. Bapak Cuma bisa nawarin sekolah itu karena Pak Paul kan juga ngajar di situ. Mungkin ntar bisa minta keringanan atau dispensasi administratif. Dan juga berangkatnya ntar bisa bareng sama Bapak naik vespa butut ini. Kan jadi kamu nggak usah minta ongkos orangtuamu. Gimana?”
”Ehm, bukan masalah butut atau nggaknya vespa Bapak! Tapi yang jadi pertanyaannya sekarang, bukannya SMA Ambalan Yesu itu sekolah nasrani ya, Pak? Banyak orang kristen dan katholiknya? Kan saya muslim pak?”tanya Faiza kaget.
” Yaaacch...Bapak nggak punya pilihan lain, Za. Gaji Bapak kan nggak seberapa. Bapak juga mesti membiayai sekolah keponakan-keponakan Bapak yang tinggal di gereja!” jelas Pak Paulus.
Faiza bingung dengan tawaran Pak Paulus. Dilema. Antara menerima tau menolak. Jika Faiza menerima tawaran itu, pasti ia akan berbaur dengan semua orang-orang nasrani itu dan cepat atau lambat, dia mesti bisa beradaptasi dengan orang-orang yang kaya itu. Sekolah nasrani, nama itu seakan terasa asing ditelinganya. Faiza takut kalau kelak dia bakal jadi nasrani. Entah kristen ataupun katholik. Faiza tak ingin berpindah agama. Faiza takut menjadi murtad. Faiza tak ingin mengkhianati Islam. Apalgi harus mengkhianati Tuhan dan Rasulnya. Sebab meskipun gaya Faiza tomboy tetapi dia tetap adalah muslimah yang taat beribadah. Padahal SMA nanti dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk berubah. Berjanji akan mengenakan jilbab karena Allah Ta’ala. Dan janji tersebut wajib ditepatinya. Namun, jika Faiza enolak tawaran itu, berarti dia sama dengan memutus harapannya sendiri, mimpinya untuk terus berekolah. Dia ingin orangtuanya kelak bangga melihat Faiza sukses karena prestasinya.
Tapi bagaimanapun jua, Faiza tak bisa menerima tawaran itu mentah-mentah. Sekalipun sekolah yang ditawarkan kepadanya itu adalah sekolah SMA Ambalan Yesu. Sekolah yang cukup ternama di kotanya. Sekolah yang siswa-siswinya mempunyai otak yang berkualitas. Tentu harganya pun juga berkuantitas. Penuh persaingan. Tapi ia mesti berpikr matang-matamg untuk memutuskan hal bijak yang akan menentukan nasibnya kelak.
”Gimana Za, kamu mau nerima tawaran Pak Paul to? Yang penting kan kamu masih bisa nglanjutin sekolah. Tenang aja, Bapak nggak akan nyuruh kamu pindah agama kok. Bapak kan tulus bantu kamu!” jelas beliau.
”Ehhmm, InsyaAllah ya Pak! Tapi Iza mesti diskusi dulu sama ortu! Makasih sebelumnya!” jawab Faiza.
Setelah berpamitan dengan gurunya itu, lalu Faiza ergegas pulang. Sesampainya di rumah, iia menyampaikan maksud baik gurunya tadi kepada ayah dan ibunya. Faiza bertanya kepada ayahnya, bagaimana kalo sebaiknya ia menolak saja tawaran gurunya tadi karena Faiza tak bisa membayangkan betapa sulitnya beradaptasi dengan orang-orang yang semuanya beda kepercayaan dengannya. Tapi respon ayahnya justru muntab.
” Bodoh banget kamu, Za!! Apa bedanya Islam dengan Nasrani? Semua agama itu sama saja, Cuma pengaplikasiannya saja yang berbeda. Kalo kamu sukses yang seneng kan kamu sendiri. Bapak dan Ibu kan pastinya juga seneng lihat anaknya sukses. Apa kamu nggak suka lihat Bapak, Ibumu ini seneng?” bentak ayahnya.
”Bukan gitu Pak maksud Iza! Tapi Islam kan memang agama yang benar menurut Iza, agama yang rahmatan lil’alamin. Yang di rahmati Allah. Rahmat bagi semesta alam!”bela Faiza.
” Kamu anak kecil tau apa soal agama. Rahmat apaan ?? kalo memang Islam agama yang Rahmatan lil’alamin, kenapa dari dulu kita nggak kaya-kaya? Malah tambah mlarat!”tegas ayahnya.Percuma meladeni ayah yang sok tau soal agama, batin Faiza.
Keesokan harinya Faiza berkunjung ke rumah Pak Paulus untuk menyatakan merima tawaran sekolah di SMA Ambalan Yesu. Semua berkas untuk pendaftaran diserahkannya kepada pastur itu.
Senin, 16 Juli 2006, hari pertama Faiza masuk SMA. Hari ini hari pertamanya pula dia mengenakan jilbab. Sepertinya cepat sekali waktu berputar. Rasanya baru kemarin Faiza jadi anak kelas satu SD. Rok merah yang dulu dikenakannya kini telah luntur jadi abu-abu. Sementara itu di luar rumah Faiza, Pak Guru Paul sudah menunggu sejak 10 menit yang lalu. Buru-buru Faiza keluar untuk berangkat bersama gurunya ke sekolah barunya. Setelah melihat penampilan baru Faiza, tiba-tiba ekspresi wajah Pak Paul nampak kaget.
”Kamu yakin Za, mau ke sekolah dengan seragam kayak gitu?” kata beliau ragu.
”Yakin, Pak. Karena ini sudah menjadi nazar saya. Jadi apapun yang terjadi saya tetap akan merealisasikannya”, jawab Faiza seraya mengangguk.
Pak guru hanya tersenyum simpul. Lalu merek segera berangkat. Setelah memasuki area sekolah, lagi-lagi Faiza menjadi Resort Center. Semua mata menoleh ke arah muslimah itu. Sementara itu, di depan ruang kelas Faiza yang baru, nampak Pak Guru Paul sedang bersitegang dengan Kepala SMA Ambalan Yesu. Pak guru Paul berusaha meyakinkan Kepsek itu bahwa penampilan Faiza tak akan mengganggu berjalannya proses KBM. Setelah cukup lama mereka adu argumen, akhirnya Pak guru Paul berhasil. Mungkin karena beliau adalah guru yang jujur dan teladan, sehingga cukup di segani oleh semua orang, termasuk Kepsek SMA Ambalan Yesu sendiri .
Suasana kelas Faiza selalu gaduh. Namun anehnya, di tengah kegaduhan itu, Faiza justru merasa kesepian. Lima bulan sudah Faiza sekolah di situ. Tapi tak stu orang pun yang mau berteman dengannya. Faiza yang dulu lincah kini telah menjadi Faiza si pendiam.
Hari ini Kamis, 4 November 2009. Ada lembaga dari AFS Shcool myang datang ke sekolah Faiza untuk melakukan seleksi pertukaaran pelajar ke Perancis. Semua siswa nampak antusias mengerjakan soal-soal yang diberikan. Tak terkecuali Faiza. Mereka saling berlomba-lomba agar lolos dalam seleksi itu. Seusai itu, sekolah melanjutkan KBM. Namun saat itu pelajaran jam terakhir, guru yang seharusnya mengajar di kelas Faiza tidak ada. Maka siswa hanya disuruh untuk belajar sendiri. Tapi faktanya, mereka tidak belajar tapi malah berkumpul, ngegenk, lalu ngrumpi, kecuali Faiza. Dia memang belum mempunyai teman. Tiba-tiba Stefanusdatang dengan membawa selembar kertas selebaran.
Si pembuat gaduh, pikir Faiza. Sontak, semua teman-teman mengerubungi Stefanus. Salah seorang di antara mereka membacakan isi dari selebaran itu seraya menatap sisnis pada muslimah itu. Seakan Faiza itu adalah penjahat. Yang membuat hati Faiza ngilu adalah bukan pada tatapan sinis teman-temannya tetepi pada isi selebaran itu. Dalam selebaran itu tertulis, seorang pendeta Lutheran membakar diri di kota Erfurt Jerman dalam rangka memperingatkan adanya BAHAYA ISLAMISASI di Eropa. Ditambah lagi komentar-komentar teman-temannya yang mengatakan bahwa muslim itu teroris, muslim itu kesetanan dengan impiannya menguasai dunia, mulim itu hobby nya membakar gereja, pura, kelenteng, bom sana, bom sini. Mereka menganggap orang Islam yang jihad itu sinting karena mengorbankan nyawa orang lain. Sedangkan pendeta itu dalam rangka memprotes adanya BAHAYA ISLAMISASI di Eropa, setidaknya tidak merusak atau membunuh orang lain tetapi justru membakar dirinya sendiri. Sangat bertolak belakang sekali dengan Islam.
Rasanya batin Faiza berontak. Lalu dengan segenap pengetahuannya, Faiza berusaha menegaskan kepada teman-temannya bahwa Islam itu tidak sama dengan teroris. Dan para teroris itu sebenarnya adalah orang yang berpaham ekstrim, yang tidak memahami ayat Allah. Mereka itu adalah oarang-orang orientalis yang menjadi muslim hanya untuk menghancurkan Islam. Namun apa daya. Satu banding tiga puluh sembilan. Tentu saja Faiza kalah telak.
Panjang lebar Faiza mendebat pandangan keliru teman-temannya, tiba-tiba salah seorang teman Faiza malah nyeletuk.
”Jangan-jangan Pak Paulus ntar bakar diri juga gara-gara stress liat Faiza nggak murtad-murtad. Ahahaha...”.Spontan semua teman-teman Faiza tertawa terbahak-bahak.
Sabtu, 16 Desember 2006. Hari pengumuman seleksi pertukaran pelajar. Faiza tak menyangka dirinya akan lolos dalam seleksi itu. Tak henti-hentinya dia berucap syukur kepada Allah SWT. Dia berhasil sekolah ke luar negeri. Itu cita-citanya sedari kecil. Dia berharap teman-temannya di Perancis kelak tak sama dengan teman-temannya di SMA Ambalan Yesu. Faiza berharap bisa bertemu dengan sesama muslim di Eropa. Dia ingin buktikan kepada dunia bahwa Islam tidak seekstrim yang mereka pikir. Faiza juga ingin katakan kepada kedua orangtuanya, ” Pak, Bu... Iza berhasil!!”.
Berhasil menjadi muslimah yang baik sekaligus muslim yang berprestasi.

TAMAT

Sabtu, 06 Februari 2010

CERPEN YENITA

PUNCAK KESIALANKU

Ngik-ngok…..ngik-ngok…..ngik-ngok…..
Bunyi jam beker lagi-lagi mengusik “the sweat dream”ku. Sampai-sampai gendang kupingku ni mau pecah dibuatnya. Rasanya berat banget mata ini buat melek. Tapi kalo nggak bangun ntar telat,mana jam pertama gurunya kiler lagi. Tapi asyik juga sih kalo telat, kan bias nggak ikut mapelnya Pak Louis si guru plontos yang di kotaknya Cuma ada rumus matematika doing.Hehe……!!!pikirku dalam hati.
Ah…., bego banget sih aku, kalo telat kan nggak boleh masuk gerbang sekolah terus dapet poin pula. Mana poinku udah numpuk sampe 45, itu aja baru kelas satu semester pertama. Gimana kalo semester dua ? Apalagi aku hobi banget kalo telat. Secara bagiku tuh peraturan dibuat untuk dilanggar. Hehe….!!!
Mending kalo poinnya bias dituker sama pulsa, nah ini di DO, bisa-bisa ntar aku diste hidup-hidup sama bonyok. Iiiiih seeeeeeerrrrrrrreeem……!!!
Lho gimana sih kok jadi ngaco pikiranku. Udah nggak ada waktu lagi buat mikir apalagi ngayal, secara jam udah nunjukin pukul tujuh. Spontan akupun langsung melesat ke kamar mandi. Ooopss, mandi ? Mana sempet ? Aku kan kalo mandi lama, butuh waktu setengah jam buat bersihin bolot-bolot bandel yang udah nyatu sama kulitku yang mulus ini. Padahal kemarin seharian aku nggak mandi gara-gara hujan udaranya dingin bikin aku males mandi.
Akhirnya akupun mutusin sikat gigi plus cuci muka doing. Lalu ganti baju terus makan ala kadarnya. Maklumlah aku kan anak kos yang cuma ngandelin kiriman ortu dari Wonosobo, yang merantau ke Semarang untuk nglanjutin sekolah yang lebih tinggi. Habis mau gimana lagi, di Wonosobo kan sekolah jarang, kalaupun ada mutunya masih rendah. Hehe…!!!
Setelah makan akupun menyanbar kunci mtorku dan langsung meluncur ke sekolah. Saat di tengeh jalan, aku dicegat oleh seorang polisi lalu lintas yang menyuruhku untuk berhenti.
“Busyet dah, aku lupa kalo aku nggak bawa helm apalagi SIM atau STNK. Mana sempat aku bawa barang begituan, tadi kan aku buru-buru. Yah.., mau nggak mau akupun nurut. Paling menthok-menthoknya pasti minta. Hehe…!!!” pikirku dalam hati.
Eitz, lha emang aku punya duit apa ? Adapun itu cuma buat kebutuhan satu minggu. Mana kiriman ortu datangnya masih seminggu lagi. Pokoknya jangan sampai skuter miniku ini ditilang, bias tekor aku kalo kemana-mana nggak bawa motor. Waduh gimana nih, bingung aku…!!!
Beberapa detik kemudian.
Yah..!aku puny ide, aku kan bias pake jurus jituku 3M (Merayu, Memelas, Menipu). Hehe..
“Priiit….priiit…STOP…!!” kata polisi itu serayameniup peluitnya.
Akupun langsung menghentikan motor dan memarkirkannya di bawah pohon jengkol.
“Iya pak, ada apa ?’ tanyaku pura-pura nggak tahu dengan tampang sok cute.
“Mana helmmu ?”
“Di rumah”.
“Mana SIMmu ?”
“Di rumah”.
“Mana STNKmu ?”
“Di rumah.”
“Dasar BOCAH BODONG.’
Iiih nyebelin banget nih polisi, pake ngatain aku bocah bodong. Emang sih kalo di sekolah aku sering dipanggil kayak gitu oleh guruku karena kecerobohanku. Tapi aku kan nggak suka dipnggil bocah bodong. Yah.., nggak apa-apa deh, secara aku kan nggak suka debat. Mendingan aku mengiyakan perkataan polisi itu biar dia seneng terus aku bebas deh..!Hehe…
Sambil nyengir akupun bilang pada polisi itu,
“Hehe…, lho bapak kok tahu nama saya sih !”
Spontan polisi itu jadi linglung tapi langsung melanjutkan renteten pertanyaannya yang nggak penting itu.
“Rumah kamu dimana?’
“Maaf pak, rumah saya nggak saya bawa soalny berat pak ?”jawabku sembrono.
Polisi itu menarik napas dalam-dalam. Mungkinia gregetan dengan jawabanku yang ceplas-ceplos itu. Salahnya sendiri pake Tanya-tanya segala. Emangnya mau sensus penduduk.
“Maksud saya alamat rumah kamu itu di daerah mana ?’nada suara polisi itu mulai meninggi.
“Ough…itu pak, rumah saya di daerah koramilatas itu lho pak “ ,j jawabku santai.
Namu tiba-tiba ekspresi polisi itupun berubah 180 derajat dan menjadi sedikit ramah. Sambil tersenyum simpul polisi itu berkata,
“Eeee…, nama Adik siapa ?”
Adik…??? Sejak kapan kakakku kawin sama polisi. Boro-boro, punya kakak aja nggak. Aku kan anak semata wayang. Mestinya, tuh polisi manggil aku “nak” bukan “dik” secara dia kan seumuran dengan bapakku.
“Lho gimana sih ? Ditanya kok malah ngelamun ! Nama ayah Adik siapa ?” tegur polisi itu dengan mengulang pertanyaannya.
“Eh maaf pak, ayah saya namanya Gandhi. Emang kenapa ?” tanyaku penasaran.
“Ough, pak Gandhi yang item, tinggi, gedhe itu kan ? Ya sudah Adik sekarang berangkat saja ke sekolah, tapi kalo nanti pulang, jangan bilang ayah ya tentang kejadian ini!” pinta polisi itu.
Akupun langsung mengiyakan perkataan polisi itu. Soalnya aku nggak mau terlibat lebih dalam dengan percakapan yang nggak penting itu. Kalo boleh jujur, aku masih bingung tuh sama perkataan polisi itu. Emang sih, aku tinggal di daerah koramil tepatnya di kos-kosan dekat koramil dan satu lagi bapakku namanya emang Gandhi tapi nggak item, tinggi, dan gedhe kayak yang dibilang polisi tadi. Enak aja bapakku dibilang kayak gitu. Masa’ kalo bapakku beneran kayak gitu anaknya bias cakep dan imut-imut kayak aku sih. Hehe…!!! Bapakku tuh cakep, kulitnya sawo mateng, dan bentuk badannya itu ideal nggak gehe seperti yang dibilang polisi itu. Tapi nggak papa ding yang penting aku bebas.
Yah, gara-gara kejadian tadi aku jadi telat nih, mana gerbangnya udah ditutup lagi. Tapi aku nggak bakal nyerah gitu aja, bukan Gadis namanya kalo aku dah kehabisan akal. Hoho…
Setelah 5 menit mikir akhirnya aku dapet ide. Aku mesti nitipin dulu nih motor di salah satu rumah warga deket sekolahn.
Setelah milih-milih, akhirnya aku nemuin tempat yang strategis buat tidur bebek ijoku, di toko bangunan Artomoro deket sekolah. Pilih-pilih, eh ternyata aku salah pilih tempat. Faktanya setelah motor udah aku parkirin, anjing si pemilik took tahu kalo aku cumin numpang parker. Kayaknya sih, anjing itu sensi banget sama aku secara aku kan Cuma numpang tapi nggak beli barang dari took itu.
Karena buru-buru akupun lari, eh malah anjing itu ikut-ikutan lari ngejar aku. Mending kalo Cuma anjing pudel, lha ini anjing herder. Siapa yang takut ?
Akhirnya aku sampai di gerbang belakang sekolah tapi anjing itu masih mbuntutin aku terus. Karena kehabisan akal aku mutusin untuk manjat pohon mangga dekat gerbang. Eitzz, tapi kan aku nggak bias manjat ? Tau ah, yang penting gimana caranya aku bias selamat dari gigitan anjing gila itu. Akhirnya aku mulai manjat, baru dua panjatan aja kakiku udah gemeteran. Gimana mau nggak? Lha wong di bawah pohon anjing itu masih nggonggong sambil menjulur-julurkan lidahnya seakan-akan mau nelan aku hidup-hidup. Waduh gimana ya, aku pengin teriak tapi ntar ketahuan satpam ama guru terus dapet poin. Ah.., itu mah sama aja makan buah simalakama!
Untuk nahan keseimbangan akupun pegangan ranting pohon sementara kakiku masih bergelantungan. Yah, kalo gini caranya ancur deh pasaranku secara anjing herder itu kan masih di bawah pohon, pasti dia lihat dong celana dalamku. Hiks….hiks….!!!
Kalo tau gini, nyesel deh aku jadinya. Kenapa dari dulu aku nggak ngakuin aja kalo monyet itu nenek moyangku. Sekarang jadi kualat deh, aku dah dikutuk nggak bias manjat pohon. Hiks….hiks…!!!
Namun perjunganku nggak bakal stop gitu aja. Nggak lucu kan kalo aku bergelantungan kayak gitu sampe anak-anak pada pulang. Untung kakiku panjang, jadi bias menggapai pagar gerbang dan loncat ke atasnya. Nggak percuma deh nyokap ngasih nama aku “Gadis Kutilang” yang katanya sih singkatan dari KUrus, TInggi, LANGsing. By the way soal kurus, kenapa anjing tadi segitu ngebetnya mbuntutin aku ya? Apa karena badanku yang kurus terus dikiranya aku tulang berjalan kayak iklan boneeto di TV-TV itu kali ya !
Ah bodho amat , yang penting aku bias selamat.
Setelah sampai ke atas pagar gerbang dan pas mau loncat ke bawah aku lihat Pak Louis sedang berjalan menuju ke gerbang belakang. Mungkin Pak Louis mau ke toilet karena letak toilet guru dekat dengan gerbang belkang sekolah. Gimana nih kalo Pak Louis lihat aku bawa tas dari pintu belakang past dia ngiranya aku telat kalo nggak pasti mau cabut. Akhirnya akupun mengurungkan niatku buat bawa tas. Yah, kepaksa aku cantolin tasku itu di ranting pohon mangga. Terus aku loncat ke bawah dan seperti dugaanku Pak Louis memergokiku.
“Kutil, dari mana kamu ?” suara Pak Louis menggelegar seakan-akan mau memecahkan gendang telingaku. Lagi-lagi makhluk aneh ini manggil aku dengan sebutan Kutil.
“Iiih, Bapak kenapa sih mesti panggil saya dengan sebutan aneh kayak gitu. Masa’ cantik-cantik gini dipanggil Kutil!” jawabku sewot.
“Ya memang kenyataannya nama kamu itu kan ? Gadis Kutilang. Jadi terserah Bapak dong mau panggil kamu apa saja yang penting sesuai dengan nama panjang kamu. Ya sudah kamu jangan mengalihkan pembicaraan. Jawab pertanyaan Bapak tadi. Dari mana kamu? Kenapa jam pertama tadi kamu tidak ada di kelas?” Tanya pak Louis sambil melotot.
“Pak, tadi itu di kelas kepala saya kejedot tembok terus karena pusing saya ke UKS. Niatnya sih Cuma mau istirahat bentar, eh nggak tahunya malah ketiduran. Pas udah bangun dan mau balik ke kelas, saya malah kebelet pipis. Yah mungkin karena masih ngantuk saya jadi linglung sampai-sapai salah ke toilet guru. Pas mau balik ke toilet siswa malah ketemu Pak Louis deh!” jawabku dengan sikap diplomatis. Nggak jujur tapi juga nggak bohong. Nggak jujur karena tadi aku nggak di UKS. Nggak bohong karena aku emang bener-bener kebelet pipis gara-gara lihat tampangnya Pak Louis.
“Ya sudah kalau begitu sekarang kamu kembali ke kelas!”
“Baik pak…!!!”jawabku sambil tersenyum nyengir.
Lalu akupun kembali ke kelas tanpa bawa tas. Saat pelajaranpun aku pinjem bukunya Devisa, temen sebangkuku.
Saat jam istirahat aku dan Devisa pergi ke kentin untuk makan.
“Eh Gadis, lo tuh tadi pagi dari mana sih jam delapan baru nyampe’?”
“Tahu nggak sih lo, tadi tuh aku di kejar-kejar anjing herder terus karena bingung, aku usaha dengan susah payah manjat pohon. Pas udah nyampe dan mau loncat, eh malah ada Pak Louis. Yah, kepaksa aku tinggalin tasku di ranting pohon biar nggak ketahuan kalo telat. Pokoknya hari ini aku bener-bener sial banget “,jawabku sambil masang tampang bete.
“Jangan gitu, kata orang kalo kita udah nyampe pada puncak kesialan, kita bakal dapet jodoh”.
“Eh, Non! Doktrin darimana tuh ? Sempet ya lo masih percaya sama yang kayak gituan . Musyrik tau nggak!”
“Enak aja itu kata Mbah Joyo, dukun di kampong gue!”
“Haha…haha…hari gini masih percaya sama dukun, haha…haha…!!”
Aku ketawa terpingkal-pingkal mendengar perkatan Devisa. Namun tiba-tibaaku teringat kunci motorku dan dalam sekejap aku berhenti ketawa.
“Astaga…! Mampus deh ! Kunci motor gue ketinggalan di tas, pokoknya gue nggak mau manjat lagi. Tapi ntar gue pulangnya gimana nih ? Dev. Tolongin gue dong !” pintaku pada Devisa dengan mimic memelas.
“Tenang aja, ntar gue suruh temen gue buat ngambilin tas lo. Dia kan jago manjat. Tapi agak soren dikit ya soalnya gue mesti pulang dulu trus ngajak temen gue kesini. Lo nunggu di gerbang belakang aja yah ?” jawab Devisa santai.
“Ooh, thank’s ya. Eh by the way, temen lo cowok ya ?”
“He’em”, jawabnya sambil ngangguk.
Setelah mendengar jawaban singkat dari Devisa, ada sekelompok cheerleader kecil bersorak sorai di hati kecilku. Sepintas ada pikiran jail di benakku. Kali aja temen Devisa itu jodohku. Yah, percaya nggak percaya sih, kata dukunnya Devisa tadi kan aku bakal dapet jodoh kalo aku udah nglewatin puncak kesialanku. Hehe…..!!!
Teett…..teett….teeet….!!!
Belpulang sekolah berbunyi. Aku dan Devisa bergegas keluar kelas dan janjian ketemu lagi jam 3 di gerbang belakang sekolah. Sambil nunggu, akupun sibuk dandan biar nanti bias tebar pesona dengan temen sobatku itu.
Satu jam kemudian Devisa dating dengan membawa motor, tapi nampaknya dia dating seorang diri.
“Lho Dev, mana temen lo ? Jangan bilang kalo temen lo nggak jadi nolongin gue”, tanyaku khawatir.
“Tenang aja, Dis. Gue kan udah ngajak temen kesini. Pasti jadi dong !” jawab Devisa mantap.
“Tapi mana temen lo ? Jelas-jelas lo dating sendirian”, tanyaku penasaran.
“Nih kenalin, temen gue namanya Arza”, kata Devisa seraya menoleh kea rah orang yang diboncengnya. Namun aku nggak bergeming, lidahku kelu ketika melihat sesosok monyet yang ada dibalik punggung Devisa. Monyet itu tersenyum meringis padaku seraya mengulurkan tangan.
“Oh my God, inikah jodohku !”, jeritku dalam hati.
Perasaan gonduk bercampur kecewa berdesak-desakkan di ubun-ubun kepalaku. Tiba-tiba pandanganku kabur dan semuanya gelap yang terdengar hanya suara samara-samar Devisa yang tampak panik.
“Oii. Kok malah pingsan sih ! Songong lo! Katanya minta dibantuin. Tenang aja, Dis. Temen gue tuh monyet jantan jadi dia jago manjat “, usik Devisa sambil mengguncang-guncangkan tubuhku.
Sejenak, aku tersadar namun semuanya kembali gelap. Sejurus akupun pingsan dengan sukses untuk yang kedua kalinya.

TAMAT

Minggu, 16 Agustus 2009

ALLAH KNOWS

When you feel all alone in this world
And there’s nobody to count your tears
Just remember, no matter where you are
Allah knows
Allah knows

When you carrying a monster load
And you wonder how far you can go
With every step on that road that you take
Allah knows
Allah knows

No matter what, inside or out
There’s one thing of which there’s no doubt
Allah knows
Allah knows
And whatever lies in the heavens and the earth
Every star in this whole universe
Allah knows
Allah knows

When you find that special someone
Feel your whole life has barely begun
You can walk on the moon, shout it to everyone
Allah knows
Allah knows

When you gaze with love in your eyes
Catch a glimpse of paradise
And you see your child take the first breath of life
Allah knows
Allah knows

When you lose someone close to your heart
See your whole world fall apart
And you try to go on but it seems so hard
Allah knows
Allah knows

You see we all have a path to choose
Through the valleys and hills we go
With the ups and the downs, never fret never frown
Allah knows
Allah knows

Every grain of sand,
In every desert land, He knows.
Every shade of palm,
Every closed hand, He knows.
Every sparkling tear,
On every eyelash, He knows.
Every thought I have,
And every word I share, He knows.
Allah knows.

I just feel this is this is great answer of my questions on my head from Allah SWT.Recently I have many problem in my life and I can't figure it out how to solve that.
Well...I know we all have our difficulties in life.But I don't know...Sometimes I just feel that I cant' hold it anymore...

But this song is telling me that Allah SWT knows of all my difficulties. If I'm in misery, it just God the Almighty is testing my faith, then please, hold on to it tight and Inshallah Allah will clear my problems.And you know...
knowing there's someone who knows my difficulties and really care about me even no one do is really,really makes my heart peaceful and comfort..

yes, it is hard sometime and you even lose faith. But always remember, it is Him who created you and it is Him who knows best, Him who has infinite knowledge and love.

Well I suggest you to download this song and hear that..
It really makes u think about the wonders of Allah,
and it really doesnt matter what is inside or out
coz Allah SWT does know....